Makna Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Sejarah perayaan maulid Nabi Muhammad saw. dimulai sejak zaman kekhalifahan Fatimid (keturunan dari Tatimah AzZahrah, putri Nabi Muhammad saw.). Shallahuddin Al-Ayyubi (1137M- 1193M), panglima perang waktu itu, mengusulkan kepada khalifah agar mengadakan peringatan maulid Nabi Muhammad saw. Tujuannya untuk mengembalikan semangat juang kaum muslimin dalam perjuangan membebaskan Masjid Al-Aqsha di Palestina dari cengkeraman kaum Salibis. Hasilnya? Semangat jihad umat Islam menggelora. Di tahun 1187 M. Shalahuddin sendiri yang membawa pasukannya masuk kota Yerusalem dan membebaskan Al-Aqsha dari cengkeraman musuh-musuh Allah. Sekarang ada kelompok yang mengatakan peringatan maulid adalah ritual yang mesti dijalankan. Ada kelompok yang menganggap peringatan maulid sebagai perbuatan yang mengada-ada atau bid’ah, karena tidak pernah dipraktekkan oleh Rasulullah, sahabat, tabi’in, ataupun tabi’it tabi’in. Terlepas dari dua pendapat di atas, yang lebih penting untuk kita renungkan adalah bagaimana umat Islam dewasa ini bisa meneladani Nabinya dalam kehidupan. Apakah watak kita sudah sesuai dengan nilai Islami? Dan dengan keadaan seperti sekarang ini yakinkah kita akan diakui oleh beliau sebagai umatnya yang berhak mendapat syafa’at beliau?

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”(Q.S. Al-Ahzab : 21)

Karakter Umat Muhammad

Pertama: keras dan tegas terhadap orang-orang kafir. yang memusuhi dan memerangi umat Islam. Juga terhadap ajaran, budaya, dan pemikiran mereka. Maklum, dewasa ini tak sedikit umat Islam bersikap tegas dan keras terhadap orang-orang kafir, namun bermesraan dengan ajarannya. Kini terjadi perang budaya, dan umat Islam yang sebenarnya diperangi merasa tidak diperangi.

Kedua: Berkasih sayang terhadap sesama umat Islam.
Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, sebab itu damaikanlah (perbaiki hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Q.S. Al-Hujurat : 10)
Oleh karena itu. sesama muslim wajib saling asah. asih, asuh. Saling menyayangi, mencintai, melindungi, menutupi aib, tidak menghina. mencemooh, memfitnah, apalagi menumpahkan darah sesamanya. Rasulullah saw bersabda:”Janganlah kalian saling mendengki, membenci, memutus persaudaraan. Dan jadilah kalian abdi-abdi Allah yang bersaudara[HR. Bukhari]

Ketiga: senantiasa rukuk dan sujud.
Umat Islam senantiasa menjaga dan mendirikan shalatnya dengan baik. Shalat adalah kebutuhan umat, kebutuhan kita, bukan saja sebagai kewajiban.
Firman Allah:”Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al-Qur-an) dan dirikanllah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S.Al-Ankabut : 45)

Keempat:senantiasa mengharap ridha Allah SWT.
Orientasi hidup umat Muhammad untuk Allah SWT. semata. untuk pengabdian total. Melaksanakan apa yang diperintahkan dan menghidari apa yang dilarang oleh Allah. Semua itu demi mengharap ridha Allah SWT.

Kelima: disegani teman dan ditakuti lawan.
O;eh karena itu umat Islam seharusnya kuat dalam segala hal, kuat dalam ketaatan terhadap agamanya, kuat pendukungnya, kuat dalam percaturan kehidupan dalam segala dimensinya. Inilah yang perlu adanya pembenahan sumber daya manusia muslim yang tangguh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s